Mengutip kata – kata blanchard,2007 : “kita pada akhirnya menjadi dewasa ketika kita sadar bahwa hidup ini adalah apa yang kita berikan bukan apa yang kita ambil”, lalu sudahkah kita memberi apa yang kita punya?.
Hidup ini seperti selembar kertas putih bersih yang s’lalu bertanya : “kau tulis apa aku dengan pena yang kau pegang?”. Kita kadang tak sadar, apa yang sebenarnya telah kita lakukan dalam hidup ini. Berawal dari hari kemarin, dulu bahkan semanjak kita lahir sampai sekarang, seperti apakah lembaran hidup kita?
Ada noda yang bisa terhapus, namun tetaplah berbekas.
Kalau pepatah bilang tiada gading yang tak retak, lalu haruskah hidup ini terus retak menjalar hingga akhirnya patah. Ibarat gajah yang patah gadingnya, hilang pula wibawanya. Beginilah hidup, segelas susu pun hancur dengan sepercik air tuba. Mempertahankan amanah lebih sulit dari pada mendapatkannya. Tuhan, berikan aku jawaban yang kubutuhkan bukan yang ku inginkan!
Hidup ini penuh dengan tanda tanya?
Kalau kata orang, hidup adalah sebuah proses pembelajaran dan pengalaman adalah gurunya. Lalu kepada siapa aku bertanya jika ku melihat masalah yang akan menimpaku? Sedang guru yang kau sebut pengalaman itu tertinggal jauh bersama ingatan yang sesunguhnya ingin ku tinggalkan. Masa silam ku sungguh begitu suram, tak berguna simpelnya. Namun, ku tahu suatu saat dia akan menjadi pegangan. Kutelan sajalah, walaupun terasa pahit. Hidup ini pahit, memang terlampau pahit. Namun, senyuman membuat rasa pahit itu berkurang, semangat membuat rasa itu tak terasa dan intropeksi diri membuatnya hilang rasa.
Hidup adalah perubahan...
Suatu saat kita akan mendapatkan tantangan yang besar namun saat inilah yang menentukan, kita akan menang dengan kebanggaan atau kalah dengan keterpurukan. Ku coba rubah hidupku ini, rintangan membentang, tak sedikit menjerat leher menghadang pandangan. Apalah daya, aku hanya ingin hidup menantang umur yang kian membentang, menembus kabut yang kau sebut masa depan. Aku hanyalah seekor ulat yang berusaha menjadi kupu-kupu.
Saya suka analogi yang terakhir "Aku hanyalah seekor ulat yang berusaha menjadi kupu-kupu".. karena saya pun merasa seperti itu!.. Seekor ulat yang terlihat jelek menurut orang banyak (tapi tidak menurut saya),padahal sebenarnya si ulat buruk rupa itu memiliki potensi untuk menjadi indah dimasa depan..Mencoba berubah, walau tidak mudah. Bermodal semangat dan Positif thinking, yakin dengan janji Allah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan!
BalasHapus